BERGEMBIRALAH

November 19th, 2009

Ajakan bergembira akan bisa dicapai ketika seseorang dalam keadaan hati yang berbahagia, hidup yang bersyukur dan damai dengan apapun. Keceriaan anak-anak ketika bermain dapat menggambarkan keadaan bergembira tersebut. Sebagaimana terekspresikan dari dalam hati mereka yang berbahagia, menikmati waktu riang dengan syukur dan damai bersama teman2 adalah gambaran kegembiraan yang nyata. Dalam budaya dolanan bagi anak-anak Jawa, telah mentradisi diisi dengan lagu ‘Lir ilir ’ karya para Wali yang biasanya dimainkan diwaktu malam Bulan Purnama.

Lir ilir lir ilir tandure wis sumilir,

Tak ijo royo-royo dak sengguh temanten anyar,

Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi,

Lunyu-lunyu peneken kanggo masuh dodotira,

Dodotira dodotira kumitir bedhah ing pinggir,

Domana jlumatana kanggo sebo mengko sore,

Mumpung gedhe rembulane, mumpung jembar kalangan,

Sun suraka surak hore!

Lagu ini mengandung isyarat dari para Wali yang mengingatkan kepada kita bahwa sudah datang saatnya ‘era’ yang menyenangkan untuk menanam (tandure wis sumilir). Suatu era yang ditandai oleh kehijauan yang menyegarkan (ijo royo-royo) sebagai masa hidup baru (temanten anyar) bagi kesegaran agama Islam. Para Wali memahami pesan Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w. bahwa ketika agama Islam tinggal namanya, Al-Qur’an terlepas dari makna para pembacanya, Masjid yang tampak indah kosong dari petunjukNya dan Iman telah terbang ke bintang Tsuraya, membutuhkan seseorang atau lebih yang dipilihNya untuk mengembalikan semuanya. Para penggembala (cah angon cah angon) sebagai orang-orang pilihan Tuhan diperintahkan untuk mengambilnya meskipun sulit dan begitu besar tantangannya dan licin pula jalannya (lunyu lunyu) penuh resiko. Buah ‘keimanan yang enam’ (blimbing) yang diambil dari bintang Tsuraya untuk kemudian dibumikan (dilaksanakan di muka bumi) dalam praktek kehidupan keseharian dengan ‘berpakaian’ taqwa (dodotira). Para Wali tampaknya sangat mengerti bahwa ketaqwaan telah rusak, robek-robek bagian pinggirannya (kumitir bedhah ing pinggir). Maka melalui orang-orang pilihan inilah, Tuhan memerintahkan untuk menjahit memperbaiki (domana jlumatana) kerusakan-kerusakan tersebut sehingga menjadi baju ketaqwaan yang pantas dipakai dalam kunjungan menghadap (sebo) Allah s.w.t. pada saatnya kelak (mengko sore). Ini adalah perjuangan besar dan panjang yang harus dilakukan dengan sangat telaten dan konsisten. Tanpa kesegaran keimanan dan utuhnya ke-Islama-an, maka tiada pantas kita menghadap Sang Mahapencipta. Inilah saatnya (mumpung), ketika suasana terang oleh cahaya rembulan (gedhe rembulane) bukan terik oleh panas matahari untuk mengajak dalam kebaikkan. Cahaya rembulan yang lembut dan sejuk menyinari dikegelapan malam membangkitkan gairah perenungan yang persuasif dan damai, bukan dogma-dogma yang kaku dan keras, apalagi brangasan. Demikian pula terdapat kesempatan yang memberi peluang untuk mengembangkan komunikasi dan informasi telah begitu luas dan mengglobal (mumpung jembar kalangan). Para Wali telah menggambarkan dengan jelas dan gamblang serta terang benderang bahwa keadaan Islam dijaman akhir membutuhkan pertolongan Allah s.w.t. untuk kembali mencerahkan kehidupan manusia. Risalah Islam memang telah sempurna dan paripurna, namun dalam perjalanan waktu telah pula mengalami perusakkan dan penurunan kualitas umat sehingga membutuhkan campur tangan Allah s.w.t. untuk memperbaikinya. Bergembiralah bagi mereka yang telah meraih kesempatan memakai baju taqwa tersebut, bersoraklah penuh suka cita diterima di paseban (suraka surak hore).