TIPS KEGIATAN IBADAH HAJI

November 26th, 2008

Musim haji tahun ini 1429 H yang jatuh pada bulan Desember 2008 akan terasa dingin mengingat jatuh dimusim dingin. Nah bagi saudara muslim dari daerah tropis seperti Indonesia pasti akan berpengaruh terhadap kenyamanan dalam berkegiatan ibadah haji. Untuk itu ada sedikit tips yang mungkin bermanfaat bagi kesehatan kita, antara lain:

1. Jagalah kesehatan dengan tertib makan makanan bergizi agar dapat menghangatkan tubuh. Putuskan segera secara bijak pada saat waktu makan tiba untuk melaksanakannya, jangan menunggu waktu hingga perut terasa lapar (atau kelaparan?).

2. Selesaikan semua persoalan (keseharian) dalam keadaan perut tidak lapar (alias sudah makan) biasanya jalan pikiran dan emosinya jauh bisa lebih terkendali. Ingat loh secara umum ‘orang lapar mudah marah’.

3. Tetap fokus dalam beribadah dan terus isi waktu sehari-hari dengan banyak berdo’a. Soal-soal rumah kalau terlintas, serahkanlah kepada Allah s.w.t. dengan ikhlas, insya Allah akan beres.

4. Tumbuhkan rasa bertanggung jawab pada diri sendiri, antara lain dengan cara mengelola waktu dengan baik semua urusan pribadi (misal: pilih waktu yang tepat untuk antrian MCK).

5. Tolonglah diri sendiri (gak ngrepotin orang lain) dan bantu orang lain sebatas kemampuan dengan ikhlas (tanpa pamrih), insya Allah s.w.t. akan membalas dengan cara-Nya yang mana kita tidak pernah tahu.

6. Jangan pernah mengeluh (berkeluh kesah) dan tidak mensyukuri apa yang diperolehnya tetapi bukan berarti tidak boleh komplain jika ada ‘ketidak-beresan’. Ingat tips no 2 di atas!

7. Bergembiralah dalam melaksanakan semua kegiatan dalam berhaji, dimana saja dan kapan saja. Kegembiraan akan menimbulkan kecintaan dan dampaknya ibadah haji sungguh menyenangkan, mudah2an suasana semacam ini sebagai tanda diterima ibadah kita, insya Allah.

Jika kemudian setelah selesai semua rangkaian kegiatan suasana kegembiraan masih bisa dirasakan sebagai kenangan tak terlupakan, insya Allah akan memberi perubahan pada kita. Jika perubahan itu selalu memberi manfaat bagi diri kita, keluarga dan lingkungan sekitar kita, bahkan bermanfaat bagi masyarakat luas dan bangsa ini – maka kita memperoleh haji mabrur.

Selamat menunaikan ibadah haji, semoga anda memperoleh haji mabrur, amien.

      

Dua orang tukang becak yang kebetulan tidak berpendidikan formal tinggi mempunyai masalah. Yang satu bersikeras bahwa pendapatnya yang benar. Satunya lagi tidak terima pendapatnya disalahkan. Debat kusirpun berlangsung keras. Saling potong pembicaraan dan tak satu pun yang mau mendengarkan. Sampai puncaknya, karena tidak bisa menahan emosi, adu fisik pun terjadi. Beruntung ada tukang becak lain yang sedang mangkal di dekat tempat tersebut. Dia pun berusaha melerai, tetapi ternyata tidak mudah. Saking jengkelnya, dia berteriak, “Sudah. Jangan berkelahi, kayak mahasiswa saja!”.  Seketika juga, kedua tukang becak yang berkelahi melihat si pelerai dan akhirnya mereka berhenti berkelahi dengan tersenyum kecut.Mereka ternyata tidak mau dipersamakan dengan mahasiswa. Makhluk dengan beragam predikat; agen perubahan, calon intelektual, calon pembimbin bangsa, dan seabreg predikat hebat lainnya. Bagi tukang becak tadi, lebih terhormat menjadi tukang becak yang masih mengandalkan otot untuk mencai uang, dibandingkan mereka yang mengandalkan otot pada tempat yang salah. Tetapi ternyata dalam beberapa hari terakhir, mata dan telinga kita tersentak dengan berita dan tayangan perkelahian mahasiswa di beberapa kampus di Indonesia. Aneh dan ajaib. Mahasiswa yang merupakan intelektual ternyata telah berubah menjadi preman. Batu merupakan senjata. Pedang pun tidak jarang ikut terbawa. Korban berhatuhan.

Sebuah fakta yang harusnya menjadi keprihatinan semuanya, termasuk mahasiswa “baik”. Hanya saja, sampai saat ini tidak satu pun pernyataan dari para aktivis mahasiswa menanggapi masalah tersebut, mengutuk perkelahian, atau sejenisnya. Ada apa gerangan? Apakah karena pelaku berstatus mahasiswa kemudian pemaksaan kehendak dan pengabaian kepentingan orang banyak lantas halal dilakukan? Tentu saja tidak.

Saya melayangkan pikiran beberapa tahun ke depan, ketika mereka menjadi memegang posisi penting. Menjadi pejabat publik. Kira-kira apa yang akan terjadi? Terus terang saya miris. Kalau otot dan kekerasan dikedepankan, kemana masa depan bangsa akan dibawa? Bagaimana kesejahteraan dan keadilan dipikirkan? Di mana kepentingkan orang banyak akan ditempatkan?

Saya hanya berharap, bahwa perkelahian yang sangat “tidak ilmiah” ini segara berakhir dan pelaku-pelaku yang terlihat sadar. Banyak harapan yang digantungkan di pundak mereka. Jangan kecewakan masyarakat!