World Class University Versi 4ICU

November 21st, 2008

Untuk mewujudkan World Class University (WCU) salah satu kriterianya tentunya adalah sejumlah pengakuan dalam lingkup internasional (International Recognize). Baik itu penelitiannya, kualitas SDM, Laboratoriumnya, proses teaching -learningnya, termasuk juga dari sisi kapasitas teknologi informasi dan popularitas webnya. 

Khusus terkait dengan kapasitas teknologi informasinya, maka webometric secara berkala (2 kali setahun) mengumumkan hasil penelitiannya dengan metode tertentu untuk kemudian menghasilkan daftar ranking perguruan tinggi seluruh dunia dari sisi kapasitas teknologi informasinya. 

Nah masih dalam kaitannya dengan teknologi informasi, versi lain perankingan adalah dikeluarkan oleh 4ICU (4 International Colleges and Universities). Tidak sebagaimana webometric yang memiliki metode yang jelas dalam hal perankingan, maka versi 4ICU ini tidak ada penjelasan detail tentang bagaimana metode perankingannya, hanya disebutkan saja web popularity. Sebenarnya kalau tidak ada penjelasan detail, hanya menyebutkan web popularity, maka kita juga bisa menggunakan bantuan tools seperti alexa. Namun tentunya dengan cara ini akan memakan waktu yang sangat lama, apalagi harus memuat ranking untuk 8750 perguruan tingg di 200 negara. Jadi, kita percaya saya bahwa 4ICU memiliki metodologi yang jelas (paling tidak waktu dan tenaga yang cukup) untuk bisa melakukan perankingan berdasarkan web popularity.

Bagaimana versi 4ICU untuk ranking universitas di Indonesia..? Gambar dibawah ini adalah screen shot dari tampilan untuk 22 besar perguruan tinggi di Indonesia. Alhamdulillah, ternyata UII berada di urutan ke 22 untuk seluruh Indonesia. Sementara untuk ukuran Yogyakarta urutannya adalah UGM,UKDW, UII, UNY, UMY. Ternyata ranking UKDW lebih baik dari UII (padahal dalam versi webometric terakhir UII sedikit diatas UKDW). Kelihatannya walaupun bukan prioritas, namun perlu ada upaya yang sistematis dan strategis dari fihak BSI untuk memaintain WEB UII agar memiliki ranking yang baik.

Bagaimana untuk wilayah Asia..? ternyata ITB walaupun di Indonesia menempatu urutan 1, untuk wilayah Asia hanya menempati urutan 25. Nahasnya, selain ITB semuanya berada di atas 100 besar.

Dan bagaimana untuk 20 besar Top University versi 4ICU…? Ternyata 8 besar pertama diraih universitas di negara Paman Sam. Wakil dari Wilayah Asia yang masuk dalam urutan atas adalah NUS (urutan 12). 

Ranking-meranking memang bukan satu-satunya kriteria WCU, apalagi versi perankingan ini umumnya tiap semester berubah-ubah. Perankingan yang paling valid tentunya kalau mendasarkan diri pada lembaga akreditasi internasional yang diakui bersama. Namun demikian, adanya berbagai macam perangkingan ini paling tidak dapat menjadi feedback awal terhadap international recognize dari PT kita.

      

Soempah Pemoeda

November 20th, 2008

Dua Puluh Delapan Oktober, delapan puluh tahun yang lalu, sejumlah pemuda Indonesia berikrar bahwa:

KAMI PEMUDA INDONESIA BERBAGSA SATU, BANGSA INDONESIA

KAMI PEMUDA INDONESIA BERBAHASA SATU, BAHASA INDONESIA

KAMI PEMUDA INDONESIA BERTANAH AIR SATU, TANAH AIR INDONESIA

Saat ini, apakah masih ada komitmen ini? Coba renungkan kawan.

Salam, MERDEKA!!!

Dua orang tukang becak yang kebetulan tidak berpendidikan formal tinggi mempunyai masalah. Yang satu bersikeras bahwa pendapatnya yang benar. Satunya lagi tidak terima pendapatnya disalahkan. Debat kusirpun berlangsung keras. Saling potong pembicaraan dan tak satu pun yang mau mendengarkan. Sampai puncaknya, karena tidak bisa menahan emosi, adu fisik pun terjadi. Beruntung ada tukang becak lain yang sedang mangkal di dekat tempat tersebut. Dia pun berusaha melerai, tetapi ternyata tidak mudah. Saking jengkelnya, dia berteriak, “Sudah. Jangan berkelahi, kayak mahasiswa saja!”.  Seketika juga, kedua tukang becak yang berkelahi melihat si pelerai dan akhirnya mereka berhenti berkelahi dengan tersenyum kecut.Mereka ternyata tidak mau dipersamakan dengan mahasiswa. Makhluk dengan beragam predikat; agen perubahan, calon intelektual, calon pembimbin bangsa, dan seabreg predikat hebat lainnya. Bagi tukang becak tadi, lebih terhormat menjadi tukang becak yang masih mengandalkan otot untuk mencai uang, dibandingkan mereka yang mengandalkan otot pada tempat yang salah. Tetapi ternyata dalam beberapa hari terakhir, mata dan telinga kita tersentak dengan berita dan tayangan perkelahian mahasiswa di beberapa kampus di Indonesia. Aneh dan ajaib. Mahasiswa yang merupakan intelektual ternyata telah berubah menjadi preman. Batu merupakan senjata. Pedang pun tidak jarang ikut terbawa. Korban berhatuhan.

Sebuah fakta yang harusnya menjadi keprihatinan semuanya, termasuk mahasiswa “baik”. Hanya saja, sampai saat ini tidak satu pun pernyataan dari para aktivis mahasiswa menanggapi masalah tersebut, mengutuk perkelahian, atau sejenisnya. Ada apa gerangan? Apakah karena pelaku berstatus mahasiswa kemudian pemaksaan kehendak dan pengabaian kepentingan orang banyak lantas halal dilakukan? Tentu saja tidak.

Saya melayangkan pikiran beberapa tahun ke depan, ketika mereka menjadi memegang posisi penting. Menjadi pejabat publik. Kira-kira apa yang akan terjadi? Terus terang saya miris. Kalau otot dan kekerasan dikedepankan, kemana masa depan bangsa akan dibawa? Bagaimana kesejahteraan dan keadilan dipikirkan? Di mana kepentingkan orang banyak akan ditempatkan?

Saya hanya berharap, bahwa perkelahian yang sangat “tidak ilmiah” ini segara berakhir dan pelaku-pelaku yang terlihat sadar. Banyak harapan yang digantungkan di pundak mereka. Jangan kecewakan masyarakat!

Sensor Robot

November 19th, 2008

Sensor adalah peranti yang menerima input berupa suatu besaran/sinyal fisik yang kemudian mengubahnya menjadi besaran/sinyal lain yang diteruskan ke kontroler. Terdapat banyak jenis sensor yang digunakan pada robot. Bahasan ini akan meliputi beberapa jenis sensor yang digunakan terutama pada mobile robot dan lebih dititikberatkan pada antarmuka dengan kontroler.

Selengkapnya baca di sini

Pilihan FOSS

November 18th, 2008

Semuanya bermula dari kebiasaan. Karena terbiasa dengan MSWord, maka kalau menggunakan selain itu merasa tidak nyaman. Terbiasa dengan IE, maka kalau menggunakan yang juga tidak nyaman. Bertahun-tahun terbiasa dengan MS Office, IE, Windows, dan software-software lisensi lainnya, padahal kita semua tahu bahwa kita adalah pengguna tidak syah dari software-software tersebut, alias bajakan.

Ketika diminta untuk membeli suatu software, maka pertimbangan kita adalah, kenapa harus bayar sekian juta rupiah kalau dengan 5000 rupiah kita bisa mendapatkannya. Memang dengan 5000 rupiah kita bisa mendapatkannya namun itu adalh sofware bajakan. Nah sekarang kita ubah, mengapa harus bayar jutaan rupiah kalau ada alternatif yang hampir sama dan gratiss serta legal. Itulah FOSS (Free Open Source Software).

Berikut ini adalah sebagian dari alternatif untuk mengubah kebiasaan tersebut.

 


 


Berkomputer yang cerdas, aman, berkah dan bermartabat, itulah issue awal yang dikumandangkan sebagai gerakan awal FOSS di lingkungan UII. Fakta menunjukkan bahwa hampir sebagian besar pengguna dekstop dan laptop di lingkungan kampus menggunakan software-software bajakan untuk operasionalisasi komputernya sehari-hari. Dan tentunya fakta ini bukan hanya di lingkungan kampus UII saja, namun juga pada sebagian besar pengguna komputer di Indonesia. Anekdotnya, lisensi software yang dimiliki oleh para pengguna komputer di Indonesia adalah GPL alias Glodok Punya Lisensi.

Apa itu software bajakan ?. Intinya Software bajakan adalah program komputer yang di copy, di perbanyak, di perjual belikan, tanpa sepengetahuan pembuatnya, untuk kepentingan si penjualnya. Atau program komputer yang dijalankan dengan lisensi yang tidak sesuai. (serial code/activation code yang tidak sesuai)?.

Mengapa ada software bajakan, banyak penyebabnya, namun penyebab utamanya adalah pada harga software tersebut yang sangat mahal untuk ukuran kantong kita. Untuk mengatasinya maka solusinya adalah menekan harga software semurah mungkin, disesuaikan dengan daya beli yang berhubungan erat dengan GNP dari negara yang bersangkutan, tidak di set berdasarkan negara pembuatnya. Jadi harga software di belahan dunia ini tidak akan sama sesuai dengan kemampuan saya beli masyarakatnya. Namun apa mau vendor-vendor menurunkan harga produknya…?

Solusi lain adalah berpaling pada FOSS (Free Open Source Software). Inilah solusi yang cerdas, aman, berkah dan bermartabat bagi kalangan pendidik apalagi untuk institusi sekelas UII. Kita bisa mendapat software free dengan cara download gratis untuk menjalankan berbagai aplikasi kebutuhan kita sehari-hari, atau free dengan cara mendapatkan source codenya untuk di kompilasi dan dijalankan (sehingga kita tahu bagaimana bentuk source code softwarenya), atau bahkan yang lebih maju lagi adalah download source codenya, utak-atik untuk dikembangkan, kemudian upload dan release lagi, atau mengawali dari baru sama sekali namun dilandasi dengan semangat kebersamaan sehingga source code yang kita punya juga di open untuk dikembangkan oleh yang lain.

FOSS adalah pilihan cerdas, karena dengan dengan FOSS kita punya alternatif, kalau ada yang murah dan mudah mengapa harus yang mahal. Selanjutnya orang-orang TIK pun akan turut berjasa menyelamatkan devisa negara (bayangkan bila kita membeli software harus dengan dollar, maka berapa banyak devisi kita terkuras). Disisi lain dengan aplikasi FOSS kita akan terhindar dari Vendor Lock-in, kita dikendalikan oleh vendor aplikasi. Karena biasanya kalau sudah beli satu aplikasi maka proses maintenance dan upgradingnya harus tetap bergantung pada vendor, dan tentunya siap-siap mengeluarkan biaya lagi untuk hal itu. Dan dari sisi SDM penggunaan FOSS akan berdampak pula pada peningkatan pengetahuan dan skill serta upgrading technology, sehingga kita tidak hanya akan menjadi pengguna pasif saja namun akan didorong untuk menjadi pengguna aktif dan produktif.

FOSS adalah pilihan aman. Aman dari virus, kalau seandainya OS yang digunakan adalah dari keluarganya Linux. Aman dari jerat hukum. Berbagai perangkat UU saat ini siap menghadang siapapun yang menggunakan software bajakan. Ada UU HAKI, ada UU ITE, ada Kepres, wah….. dijamin hidupnya tidak akan tenang. Wajarlah bila ketika beredar rumor adanya sweeping laptop di bandara, maka semuanya pada was-was kalau harus berpergian lewat bandara. Namun dengan FOSS, tidak ada yang dikhawatirkan, semua software yang terinstall adalah legal, karena berlisensi GPL asli (General Public Licence bukan lagi Glodok Punya Lisensi). Dengan demikian kemanapun dan dimanapun kita menggunakan komputer tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

FOSS adalah pilihan berkah. Karena dengan software FOSS maka kita tidak mendholimi siapapun. Kita tidak mencuri hak seseorang, tidak menggunakan serial code yang tidak sah (serial code orang lain digunakan secara tidak syah oleh kita), tidak merugikan fihak manapun. Insya Allah komputer kita akan berkah. Bayangkan kalau kita menggunakan software bajakan, maka sebenarnya diatas jari jemari tangan kita yang menari-nari diatas tuts keyboard sebenarnya kita sedang mendholimi fihak tertentu.

FOSS adalah bermartabat. Masa sih kita hidup dari sesuatu yang tidak legal. Presentasi bagus di depan publik, dibayar untuk presentasi, tapi tools untuk presentasinya adalah bajakan. Ngobyek untuk fihak ketiga, dibayar untuk hasil obyekannya, namun tools untuk ngobyeknya bajakan. Wah…. benar-benar gak bermartabat…..!

Karena itu semua, mari kita segera berpaling dan memotivasi diri untuk memilih dua pilihan saja, kalau mau menggunakan software jelas legal nya. Kalau tidak membeli lisensinya langsung pada vendor, maka gunakan FOSS. Kalau tidak hitam ya putih, jangan ada lagi yang abu-abu.

Laporan keuangan pemerintah daerah periode 2004-2009 mengecewakan. Persentase laporan yang dinilai baik hanya satu persen. Laporan keuangan pemerintah daerah kembali mendapat rapor merah dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dari hasil pemeriksaaan, BPK menyimpulkan kondisi laporan keuangan di pusat dan daerah mengalami penurunan kualitas. Bahkan, Ketua BPK Anwar Nasution, mengatakan hasil laporan keuangan daerah ini mengecewakan. [...]

Kemarin, saya meluangkan waktu 1 jam penuh untuk melihat-lihat stok laptop di sebuah toko besar di Jogja. Saya sudah punya kriteria khusus agar tidak tergoda dengan tawaran lain: layar 12 inchi, RAM 1-2 GB, dan slim weight dengan budget X juta (plafon jurusan). Saya datang dengan mengincar Lenovo ThinkPad. But qodarullah, si sales mengatakan bahwa stok tersebut kosong di Indonesia. Meski incaran saya tersebut masuk plafon, tapi karena dolar sudah menembus Rp12.000 (jatuhnya 4 juta lebih mahal), maka saya pun ditawari laptop2 lain agar ga melampaui budget. Ada Sony Vaio seri SR, Fujitsu seri S, Toshiba seri Portege, dsb. Saya pun memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dengan melihat-lihat tampilan fisik (chassis, keyboard) dan membandingkan spek. Sayang sekali, di ujung pencarian, tidak ada stok laptop yang memenuhi empat kriteria yang saya patok. Saya pun pamit pulang; mau mikir-mikir lagi di rumah.

Sebenarnya saat ini jurusan memfasilitasi saya dengan laptop keren: Portege seri A200. Meski ini lungsuran dari dosen senior (jadi bukan laptop baru), tapi kualitasnya sangat OK. Laptop ini sudah berchassis putih, layar 12 inchi, RAM 1 GB, slim weight, dan keyboard cukup stylish, pas dengan saya:) Laptop tersebut keluaran 2006, dan saya menerimanya dalam keadaan bagus: baterai masih kuat standby 3 jam dan semua preipheral berjalan normal.

Sayang sekali, setelah hampir setahun berada di tangan saya, baterai nge-drop abis dan LCD cukup bermasalah (mungkin karena sudah berumur). Berulang kali saya harus berhenti bekerja dengan laptop karena tiba-tiba LCD blurr (sempat BDS juga sih). Bahkan saya sempat mengajar dengan hanya menampilkan screen di layar kelas, bukan di laptop karena LCDnya cuma bisa menampilkan background hitam dan garis merah). Menitipkan laptop ke tempat servis hanya akan mengurangi produktivitas (minimal menginap 1 hari), sehingga saya memberanikan diri meminta ganti laptop ke jurusan. Alhamdulillah disetujui, bersamaan dengan rekan-rekan dosen lain. Kemarin mereka sudah ganti laptop sesuai merk yang diinginkan, sedangkan saat itu saya belum nemu laptop yang pas (agak sibuk), jadi saya tunda melulu (eh, ternyata malah sekarang dolar naik:)

Semalam, karena kurang enak badan, saya membiarkan putri saya nonton VCD “Petualangan Mimi” di laptop sendirian (biasanya disambi belajar; maklum masih batita). Karena LCD lagi-lagi rewel, akhirnya saya cuma menggerak-gerakkan LCD ke depan dan belakang sambil berharap semoga gambarnya makin jelas. Alhamdulillah, Allah mengabulkan harapan hamba-Nya yang sedang sakit. Entah dalam posisi berapa derajat, tampilan LCD pun normal senormal-normalnya. Aneh, tak sengaja, tapi alhamdulillah )

Sambil istirahat, saya pun berpikir, “Seandainya punya hati, apakah laptop ini sebenarnya juga tidak ingin saya tinggalkan?” Laptop ini jelas memenuhi empat kriteria yang saya mau, tapi sayang ada komponen yang sering bermasalah sehingga saya jadi sering marah-marah. Pun si Portege ini masih bisa dipakai well meski harus selalu makan listrik dari adaptor.

Pagi ini, saya berpikir ulang, “Apakah keputusan saya mengganti si Portege ini sudah tepat?” Dengan naiknya kurs rupiah terhadap dolar dan kembalinya LCD ke keadaan normal akibat penemuan tidak sengaja, saya berpikir flashback: dunia memang berubah sangat cepat, pemikiran manusia tidak selalu rigid, dan kadang suasana hati cukup mempengaruhi pengambilan keputusan. Allahu a’lam.

Energi!

November 13th, 2008

Saya kebetulan mendapat kesempatan untuk hadir dalam sebuah seminar yang bertajuk Pengembangan Infrastruktur Energi Nasional Sebagai Upaya Peningkatan Jaminan Pasokan Energi dalam Rangka Membangun Kemandirian Nasional (seri ketiga) di Hotel Sheraton Jogjakarta 13 November 2008 ini. (kebetulan pas seminar energi ini listrik PLN byar pet juga… dan genset sempat hidup mati di awalnya, pas ada direktur [...]